Usut Tuntas Pengiriman 35 Ton Zirkon - PAWARTANUSANTARA.COM

Breaking

PAWARTA TV

Wednesday, 19 September 2018

Usut Tuntas Pengiriman 35 Ton Zirkon

PawartaNusantara.com | Manggar, 19 September 2018 Menanggapi pemberitaan media, yang memberitakan 35 Ton Zirkon di tangkap, dilepas lagi menuai Kritik dari LSM Warna Indonesia yang diketuai oleh Syamsurizal.

Dari pemberitaan tersebut, "kami mencermati bahwa atas dalih peningkatan nilai tambah mineral dengan cara kerjasama pengolahan dan/atau pemurnian berupa jual beli konsentrat zircon atau kegiatan untuk melakukan pengolahan dan/atau pemurnian yang seyogyanya  asal usul Zirkon tersebut berasal dari hasil pengolahan mineral timah dari IUP Operasi Produksi milik PT. Nayo Beliton Mining yang kami yakini berlokasi di desa Jangkar Asam Kecamatan Gantung Kabupaten Belitung Timur yang tentunya dalam hal ini sebagai pihak penjual dan PT. Cinta Alam Lestari berdasarkan pemberitaan tersebut mengantongi IUP Khusus pengolahan dan Pemurnian yang diterbitkan oleh Menteri ESDM sebagai pihak pembeli", ujar Syamsu. 

"Dalam mekanisme peningkatan nilai tambah mineral ada sejumlah kewajiban yang harus dilakukan oleh PT. NBM dan PT. CAL  sebelum melakukan kegiatan jual beli misalnya kewajiban untuk menyampaikan rencana kerjasama pengolahan dan pemurnian kepada Menteri ESDM dan kewajiban menyampaikan rencana penjualan kepada Gubernur dan Menteri ESDM sebagaimana dimaksud dalam pasal 6 ayat (2) dan ayat (5) Peraturan Menteri ESDM nomor 5 tahun 2017 tentang Peningkatan Nilai Tambah Mineral Melalui Kegiatan Pengolahan dan Pemurnian Mineral di Dalam Negeri. Disamping itu juga kewajiban untuk memenuhi batasan minimum pengolahan bagi penjual atau batas minimum pemurnian sisa hasil pemurnian dengan merujuk pada persyaratan zirconium sesuai peruntukannya, apakah di grade >90% untuk industry nuklir atau grade >65% untuk industry keramik misalnya", tandas Syamsurizal.

"Sepengertahuan kami dilapangan bahwa PT. Nayo Beliton Mining ini sesuai dengan IUP Operasi Produksi yang dimilikinya melakukan penambangan timah dan melakukan pengolahan bijih timah yang diperuntukan untuk memenuhi produksi pabrik pemurnian timah PT. Tommy Utama. Kita juga baru mengetahui bahwa PT. NBM ini ternyata melakukan pengolahan mineral ikutan timah yaitu zircon," ujar Syamsu.

"Dalam soal perizinan menurut kami, khususnya dalam konteks peningkatan nilai tambah mineral ini, izin IUP OP atau IUP OPK yang mereka miliki hanya menjadi legal standing bagi kedua belah pihak untuk melakukan kerjasama pengelohan dan pemurnian zircon ini yang dituangkan dalam suatu perjanjian atau MOU kedua belah pihak. Jadi dengan adanya IUP OP atau IUP OPK tidak dengan serta merta bahwa mereka bisa melakukan kegiatan jual beli zircon. Hal yang paling prinsip yang harus mereka penuhi adalah membuat perjanjian atau MOU yang disetujui oleh Gubernur atau Menteri ESDM. Nah untuk mendapat persetujuan tersebutlah mereka harus menyampaikan dokumen teknis antara lain RKAB tahun berjalan yang sesuai dengan rencana kegiatan dan penjualan tersebut," pungkas Syamsu.

Baca juga : Hadiri Pisah Pejabat Perhutani, Bupati Harapan Peningkatan Kerjasama

"Atas kejadian ini, kami meminta kepada Polda Babel untuk sama-sama mengecek kembali dokumen-dokumen perizinan kegiatan jual beli zircon tersebut serta turun kelapangan untuk mengecek asal usul zircon tersebut, karena ini penting artinya selain untuk menjamin kepastian hukum, dan menambah kepercayaan public terhadap aparat penegak hukum serta mengamankan asset yang berupa bahan galian yang bernilai strategis bagi negara," tandas Syamsurizal. (Marsidi)

No comments:

Post a Comment