Warga Lereng Gunung Limo Pacitan Gelar Upacara Adat Tradisi Tetaken - PAWARTANUSANTARA.COM

Breaking

PAWARTA TV

Tuesday, 25 September 2018

Warga Lereng Gunung Limo Pacitan Gelar Upacara Adat Tradisi Tetaken

PawartaNusantara.com |Pacitan - Kabupaten Pacitan yang terkenal dengan julukan Kota 1001 Goa banyak memiliki destinasi wisata, Selain itu kota yang terletak 209 Km arah barat daya dari kota Surabaya ini juga banyak memiliki tradisi unik yang turun menurun, Selain tradisi budaya Ceprotan, Mantu Kucing, Jangkrik Genggong,Larung sesaji ada salah satu tradisi yang di miliki dan di lestarikan oleh warga yang berada di lereng Gunung Limo yaitu upacara adat "TETAKEN".

Bagi masyarakat yang mengikuti penanggalan Jawa, yaitu tepat pada 1 Syuro selalu diadakan beberapa kegiatan untuk memperingati pergantian tahun Hijriyah atau tahun baru islam, Sedangkan di Gunung Limo sendiri, Dalam bulan Syuro atau Muharam, beberapa orang melakukan teteki atau bertapa di bulan tersebut, Selanjutnya para pertapa tersebut disambut oleh masyarakat dalam bentuk perayaan Tetaken yang diadakan setiap tanggal 15 bulan Syuro.
Menurut Kepala Desa Mantren Ismail mengatakan, Tetaken berasal dari kata tetekian. Teteki mendapat imbuhan “an” (tetekian) yang berarti pertapa-an. Yaitu bermakna tempat pertapaan. Karena karakter bahasa setempat untuk mempermudah penyebutan, maka kata tetekian berubah pengucapannya menjadi tetaken tanpa mengurangi makna sesungguhnya.
"Tradisi tersebut diadakan untuk mengingat kembali proses datangnya Eyang Tunggul Wulung serta Mbah Brayut ke Gunung Limo dan menetap di lereng Gunung Limo tersebut," ujarnya usai prosesi upacara tetaken, Selasa (25/9/2018).

Lebih lanjut Mbah Mangil sapaan akrab Ismail ini menceritakan prosesi dalam ritual ini, Saat sang juru kunci Gunung Limo turun gunung bersama para cantriknya yang sekaligus murid-muridnya.

Mereka baru selesai menjalani tapa di puncak gunung dan akan kembali ke tengah masyarakat. Bersamaan turunnya para pertapa dari puncak gunung, iring-iringan warga muncul menyambut para pertapa memasuki area upacara.

"Masyarakat mengenakan pakaian adat Jawa. Barisan paling depan adalah pembawa panji dan pusaka Tunggul Wulung (Panji Tunggul Wulung, Keris Hanacaraka, Tombak Kyai Slamet, dan Kotang Ontokusumo/Jubah Hitam pertapa),"jelasnya.

Di Pacitan, lanjut dia, terdapat lokasi pendadaran (pelatihan kanuragan dan kebatinan) yang berpusat di Gunung Limo. Pendadaran prajurit kemudian lazim disebut sebagai wisudan Tunggul Wulung (wisuda yang dilakukan oleh Tunggul Wulung). Prajurit Mataram melakukan pendadaran olah kanuragan dan kebatinan kepada pemuda-pemuda di desa-desa dengan tujuan memperkuat pertahanan kerajaan apabila sewaktu-waktu ada peperangan.

Pembekalan yang dilakukan oleh prajurit Mataram di bawah Panji Tunggul Wulung tidak hanya olah fisik saja kepada generasi muda. Melainkan mengajarkan ilmu kasepuhan kepada masyarakat. Memantabkan ajaran Islam secara esketik dikombinasi dengan penanaman prinsip-prinsip pengabdian kepada negara.

Baca juga : 14 Tahun Di Negeri Orang, Akhirnya Kembali Ke Tanah Air

"Mendekatkan hubungan kerajaan dengan masyarakat sekaligus mempereratnya. Kegiatan penanaman mental bela negara, olah kaprajuritan, kepatuhan kepada raja dan kerajaan, Nilai-nilai moral, spiritual lahir dan batin oleh prajurit Mataram Tunggul Wulung ini di kemudian hari menjadi sebuah tradisi dari generasi ke generasi yang disebut dengan Tetaken," pungkasnya.

Acara yang berlangsung di halaman padepokan Gunung Limo di hadiri masyarakat dan unsur-unsur Pemerintah Kabupaten Pacitan tersebut berjalan dengan khitmad.(tyo)

No comments:

Post a Comment