BLANTERWISDOM101

Indartato : Kita Semua Ingin Agar Wayang Beber Pacitan Bisa Diakui Dunia

PawartaNusantara.com | Pacitan -  Wayang Beber adalah sebuah pertunjukan wayang yang dipertunjukkan dengan cara menceritakan lukisan yang dibeber (dibentangkan) di depan dalang. Lukisan wayang beber berjumlah 6 gulung, dan tiap gulung berisi 4 jagong atau adegan. Kesenian yang sudah langka ini hanya tersisa di dua tempat yaitu di Kabupaten Pacitan Jawa Timur serta Wonosari Gunungkidul D.I Yogyakarta.

Wayang Beber Pacitan memiliki spesifikasi, yaitu hanya mengisahkan perkawinan Panji Asmarabangun dengan Dewi Sekartaji, atau disebut kisah Jaka Kembang Kuning, yang merupakan salah satu episode Cerita Panji. Sedangkan Wayang Beber di Gunungkidul disebut Wayang Beber Kyai Remeng Mangunjaya.

Pergelaran Wayang Beber hanya diiringi alat-alat musik cukup sederhana (gamelan slendro), terdiri dari rebab (instrumen gesek), kendang, kethuk, kenong dan gong (semuanya perkusi). Tempat untuk menancapkan tongkat penggulung Wayang Beber menjadi satu dengan tempat menyimpan gulungan Wayang Beber tersebut.

Seperti halnya Wayang Beber dari Dusun Karang Talun, Desa Gedompol, Kecamatan Donorojo ternyata memikat khalayak. Tak hanya dari daerah lain. Tetapi juga mancanegara, Pergelaran dimulai dengan sebuah ritual, kemudian gamelan dimainkan, dan selama sekitar 1 (satu) jam dalang menceritakan masing-masing lukisan yang menggambarkan adegan atau sebuah peristiwa, hingga sampai adegan ke 23 pada gulungan yang keenam. Gulungan terakhir yaitu ke-24, tidak pernah dibuka dalam pergelaran.

"Kita semua ingin agar wayang Beber  Pacitan diakui dunia, serta bisa menjadi ikon budaya pacitan" ujar Bupati Indartato usai menyerahkan bantuan pembangunan sanggar wayang tersebut senilai Rp 50 juta, Selasa (2/10/2018).

Bantuan itu menjadi bagian dari kepedulian dan tugas pemerintah daerah memajukan kehidupan masyarakat. Salah satunya bidang kebudayaan. Dimana didalamnya termasuk wayang Beber. Terlebih ada daerah lain yang ingin mengakuinya sebagai budaya milik mereka.

Bupati menjelaskan, wayang yang dipercaya menjadi tertua di dunia tersebut telah diakui oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai warisan budaya tak benda nasional untuk kategori tradisi dan ekspresi lisan milik kota di barat daya Jawa Timur ini. Namun demikian upaya pengembangan dan pelestariannya tidak lantas berhenti begitu saja.

"Ketika wayang Beber mendunia, maka tidak hanya desa dan kabupaten yang akan berkembang dan dikenal luas. Tapi juga negara kita," jelasnya.

Lebih lanjut Indartato menceritakan, Wayang Beber Pacitan hanya dimiliki oleh keluarga Sumardi, yang merupakan generasi ke-13 sejak Nolodermo. Semula ada kepercayaan bahwa yang boleh mendalang harus memiliki garis keturunan langsung (trah), namun sejak Sumardi (Ki Mardiguno) meninggal dunia, tradisi pergelaran Wayang Beber Pacitan diteruskan oleh dalang muda Rudhi Prasetyo, anak asuh Ki Mardiguno, yang sudah diberikan wewenang oleh Ki Mardiguno sebelum meninggal dunia. Rudhi menggunakan wayang beber duplikat, sedangkan yang asli kondisinya sudah mengkhawatirkan, disimpan sebagai pusaka.

"Kita patut bangga, Sekarang ini sudah hadir kembali dalang Wayang Beber Pacitan yang masih memiliki trah dalang Wayang Beber asli, meski bukan keturunan langsung dalang Mardiguno.Namun ada yang melanjutkan menjadi dalang Wayang Beber Pacitan," tandasnya

Baca juga : DPR Curiga Ada Kejanggalan Dengan Kemampuan BMKG

Dari penuturan warga setempat diketahui, selain warga dari luar kota, tidak sedikit pelancong luar negeri berkunjung ke Karang Talun. Diantaranya dari kawasan Timur Tengah dan India. Mereka sengaja datang untuk mendengarkan kisah sejarah wayang berisi cerita cinta Panji Asmoro Bangun dengan Dewi Sekartaji itu. (tyo).
Share This :

0 komentar