DESKRIPSI GAMBAR  

PAWARTA TERHANGAT


 
BLANTERWISDOM101

Ratusan warga PSHT gelar aksi solidaritas di Pengadilan Negeri Pacitan


PawartaNusantara.com | Ratusan warga PSHT Pacitan menghadiri sidang lanjutan kasus meningalnya warga PSHT AS (16 tahun) dalam agenda pembacaan Esepsi yang digelar di Pengadilan Negri setempat. Sidang yang di pimpin Hakim Ketua Yogi Arsono, SH.KN, MH, Dan Hakim Anggota Tavia Rahmawati,SH,MH, Dian Mega Ayu, SH dengan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Luthcas Rohman, SH dan Endang Suprapti, SH.

Eko Suprianto SH,MH yang merupakan Kuasa hukum terdakwa VV (17 tahun) dan GCP (17 tahun), Dalam pembacaan Esepsi/Pembelaan mengajukan keberatan atas semua tuntutan Jakasa Penuntut Umum (JPU), Karna dianggap tidak sesuai dengan dakwaan terhadap kedua terdakwa dan dianggap cacat formil secara hukum.

"Korban AS saat latihan mendapat hukuman tindakan pernapasan oleh terdakwa VV dan GCP (pelatih), Tindakan tersebut atas kesepakatan bersama antara siswa PSHT dan pelatih, Jika ada siswa yang melanggar dan tidak serius dalam melaksanakan latihan,"jelasnya saat membacakan Esepsi di ruang sidang Pengadilan Negri, Kamis (27/12/2018).

Lebih lanjut Eko menambahkan, Korban meninggal bukan karna saat melaksanakan latihan, Namun Korban meninggal dunia setelah di rawat serta dilakukan oprasi RSUD dr Darsono Pacitan, Korban meninggal bukan disebabkan oleh latihan ataupun sehabis melaksanakan latihan.

"Kami menolak semua tuntutan JPU atas korban yang mengalami Sakit perut dan dipukul serta ditendang oleh kedua terdakawa, Saat korban meninggal dunia tidak ada tindakan Otopsi atau Visum dari Dokter maupun dari pihak kepolisian sebagai pemeriksaan mayat untuk membuktikan bahwa korban meninggal atas dasar tindakan kekerasan ataupun disebabkan selesai latihan, Kami menuntut agar dilakukan bedah mayat forensik (outopsi) untuk pembuktian dalam perkara ini,"tambahnya.

Secara terpisah koordinator aksi Danur suprapto SH mengatakan Selain rekan-rekan yang hari ini hadir memberi semangat kepada kedua terdakwa, Pihaknya juga keberatan dengan tuntutan JPU, Karena diangap dakwaan tersebut cacat formil, Sebab hilang nya nyawa seseorang yang dianggap ada kaitannya dengan prises hukum harus di lakukan visum ataupun outopsi.

"Kami anggap proses hukum tidak sesuai Prosedur maka dari itu kami sangat keberatan, inikan menyangkut hilang nya nyawa seseorang, kalau nyawa seseorang hilang harus dilakukan outopsi untuk mengetahui kebenarannya, Namun hal tersebut tidak dilakukan, maka dakwaan jaksa penuntut umum cacat formil menurut Kitab Undang -undang Hukum Acara Pidana(KUHAP)"tegasnya saat di konfirmasi pawartanusantara.com.

Sidang pembacaan Esepsi selesai dan sidang akan di lanjutkan pada tanggal 3 Januari 2019 mendatang dengan agenda jawaban dari Esepsi tersebut.(tyo)
Share This :

0 komentar