DESKRIPSI GAMBAR  

PAWARTA TERHANGAT


 
BLANTERWISDOM101

Situs Gulang-Gulang yang masih Misteri


PawartaNusantara.com | Sumedang. Tepatnya sekitar 10 km dari kecamatan Jatigede Sumedang, yakni diwilayah desa Cintajaya berbatasan dengan kab. Majalengka. Situs ini berada dipinggir jalan penghubung desa, walaupun jauh dari pemukiman penduduk tapi tempat ini selalu ramai oleh pengendara bermotor. Suasana sejuk dan dingin disekitar menambah aura mistis yang kental karena dibawahnya ada aliran air gemersik menuju muara sungai Cipaingeun, (29/1).

Situs ini tidak berbentuk makam, namun sebagian orang mengkramatkan tempat ini, terbukti adanya sesaji dan dupa kemenyan. Adanya juga yang menyimpan uang beberapa lembar ataupun recehan, biasanya pedagang yang melewati tempat ini. Entah tujuannya untuk apa !!!.

Makam ini terkenal dengan sebutan "Gulang-Gulang ( Embah Jagat Raksa).
Tidak ada catatan sejarah tentang hal ini jadi sulit untuk mengungkap keberadaan tempat kramat yang dianggap sakral tersebut.

Pihak pemerintah desa yang merubah jadi bentuk bangunan kecil seperti sekarang ini, dulunya hanya tumpukan batu ditata rapi. Dan merekapun tidak tahu kisah sejarah yang sebenarnya. Hanya cerita turun temurun masyarakat sekitar bahwa disitu makam Gulang gulang kerajaan "Katanya!!"

Pandangan supranatural penulis melihat " keberadaan makam ini sudah begitu lama jauh sebelum adanya pemukiman desa. Beliau bernama JAGAT RAKSA seorang panglima kerajaan Pajajaran yang bertubuh pendek kekar selalu membawa pentungan besar, yang kala itu sebagai benteng didepan pintu kerajaan yang berpenampilan gagah.

Menjelang berakhirnya kejayaan kerajaan Pajajaran panglima tersebut diutus oleh Sribaduga maharaja Prabu Siliwangi, untuk mengembara ke daerah utara Sumedang Larang yang berbatasan dengan wilayah Nyi Rambut kasih (sekarang Majalengka)
Dan akhirnya menemukan tempat  ini untuk menjaga perbatasan kedua wilayah, yang kenyataannya sekarang gerbang jalan menuju desa Cintajaya. 

Sampai sekarang disekitar situs dijaga oleh mahkluk kasat mata, berupa macan kumbang yang tidak begitu besar. Inipun dibenarkan oleh Bapak penulis (alm) beberapa puluh tahun yang lalu ketika lewat hendak pulang menjelang Isya, waktu itu berpropesi sebagai tukang foto keliling, dan melihat seekor macan hitam sebesar anjing pelacak ada disana.
(Wallahu Alam Bissawab)
[Uju J]
Share This :

0 komentar