DESKRIPSI GAMBAR  

PAWARTA TERHANGAT


 
BLANTERWISDOM101

Petani Padi Keluhkan Kerusakan Bendungan Sarana Irigasi DiWay Berkarang Waway karya


PAWARTANUSANTARA.COM | Waway karya, selasa (19/2/2019), Petani padi diwilayah desa Sumber Rejo dan desa Mekar Karya Kecamatan Waway karya Kabupaten Lampung Timur mengeluhkannya kerusakan Bendungan sarana irigasi yang berada di wilayah Sungai Way Berkarang Tengah dan Sungai Way Berkarang bawah. Kerusakan Bendungan sarana irigasi yang ada di dua titik ini, menurut warga sudah lama tidak dapat difungsikan, bahkan kerusakan terjadi tidak lama setelah dibangun.

Di Kecamatan Waway karya sendiri terutama diwilayah sungai Way Berkarang terdapat 4 (empat) Bendungan sarana irigasi untuk pengairan persawahannya. Titik pertama ada wilayah Sungai Way Berkarang bagian atas tepatnya di desa Mekar Karya. Bendungan yang ada di titik ini dibangun pada tahun 2017 lalu, namun sayangnya pasca Bendungan ini diselesaikan pembangunannya, Bendungan tidak dapat berfungsi sesuai harapan. Hal itu disebabkan ketinggian beton penahan air yang tidak sesuai dengan saluran pembagian air, sehingga ketika ditutup air tidak dapat masuk ke saluran.

Dititik kedua yang berada di wilayah Sungai Way Berkarang Tengah, tepatnya diperbatasan desa Mekar karya dan desa Sumber Rejo, Bendungan sarana irigasi satu ini sudah lama ambruk. Ambruknya bangunan bendungan ini diduga karena buruknya kualitas bangunan sehingga tidak mampu menahan kuatnya arus dan debit air ketika bendungan difungsikan. 

Bangunan ini sendiri, menurut warga yang bernama Kateni dibangun sekitar tahun 2015 lalu, dan bersamaan dengan pembangunan proyek normalisasi sungai Way Berkarang. "Bendungan ini dibangun kira-kira tahun 2015 pak, bareng dengan normalisasi sungai Way Berkarang dulu, paling-paling setahun dari dibangun sudah rusak dan ambruk pak. Untung sekarang musim hujan, sawah kami bisa kesiram air, tapi tetap saja  ngga bagus pak padinya, gimana-gimana airnya tetap kurang", ucap Kateni.

Beralih ke lain tempat, kami melihat ada bangunan bendungan yang dibuat oleh warga secara swadaya. Bendungan satu ini nampak masih berdiri kokoh, namun sayangnya karena didesain tanpa adanya perhitungan yang matang, bendungan ini tidaklah berfungsi secara maksimal, bahkan menyebabkan tergerusnya sisi-sisi tanggul sungai yang ada dibawahnya.

Berjarak sekitar 500 meter kearah bawah, tepatnya di sungai Way Berkarang bawah, kami menyaksikan sebuah bangunan bendungan yang mana tanggul sungai yang berada tepat di sisi kiri bendungan tersebut ambrol dan sudah menjadi aliran sungai baru. Sehingga bendungan ini tidak dapat berfungsi lagi, serta akibat terjangan air disisi kiri bendungan ini merusak areal sawah milik warga. Dibagian bangunan kami melihat pada tuas kendali penutup sudah tidak ada lagi.

Menurut salah satu warga yang enggan disebutkan namanya, usia bendungan sarana irigasi ini belum lama, "mungkin baru sekitar 3 (tiga) tahunan mas, dan kami belum merasakan manfaat dari bendungan ini, tapi tanggulnya sudah jebol dan bendungannya rusak. Mungkin penutupnya gampang rusak itu karena dulunya pakai barang bekas mas, mereka mengambil besi bekas penutup bendungan yang ambruk dulu dibawah sana", pungkasnya sembari menunjuk ke arah bagian bawah bendungan.

Dibagian persawahannya yang ada tepat dibawah bendungan, kami melihat ada bangunan saluran drainase. Bangunan ini tampak belum lama dibangun, dapat kami perkirakan baru berusia kira-kira satu tahunan. Menurut Seniman, warga desa Sumber Rejo yang kebetulan ada di lokasi, "siring ini baru setahun pak, ini aneh lo pak, masak bendungannya rusak tapi malah dibangun saluran. La airnya mau dari mana. Apa lagi areal persawahan di sini terkena dampak genangan Bendung Gerak Jabung pak, lalu buat apa ini dibangun", ucapnya terheran-heran.

Seyogyanya, petani sawah dapat merasakan manfaat dari bendungan untuk mengairi sawah mereka. Namun sayangnya, yang terjadi di dua desa Sumber Rejo dan Mekar karya sangatlah berbeda dengan apa yang diharapkan para petani. Bangunan-bangunan bendungan yang ada, hanyalah menjadi monumen belaka. Jelas ini tidaklah sejalan dengan program pemerintah untuk meningkatkan hasil produksi padi, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kekeringan bukanlah dialami disaat musim kemarau saja, namun kekeringan persawahan petani diwilayah ini terjadi juga disaat musim penghujan. (Rj Niti)
Share This :

0 komentar