DESKRIPSI GAMBAR  

PAWARTA TERHANGAT


 
BLANTERWISDOM101

Terkait Kematian Aurellia, Tidak Diketemukan Unsur Kekerasan


PAWARTANUSANTARA.COM | Sehari usai didatangi KPAI dan LPAI, Pihak Kepolisian Resot Kota Tangerang Selatan (Polres Tangsel) bersama Walikota Tangsel  langsung mengundang para insan pers untuk menjelaskan fakta-fakta bahwa tidak diketemukannya dugaan unsur kekerasan penyebab meninggalnya almarhuma Aurellia Qurrota Ain (AQA), salah satu siswi anggota calon pasukan pengibar bendera pusaka (capaska).

Pertemuan dengan para rekan-rekan pers bertempat di Lobby Polres Tangsel, Selasa (13/8/20!9) petang, dimaksudkan agar ada titik terang penyebab meninggalnya AQA. 

"Tidak diketemukan, yang bisa dikatakan, informasi-informasi yang beredar selama ini," ucap KPAI.

Walaupun saat pendidikan pelatihan, ada milik AQA yang diserahkan, misalnya ransel, hp, catatan diary yang dirobek, dan itu tidak cukup bukti untuk menyatakan bahwa penyebab meninggalnya.

KPAI melihat evaluasi hampir setiap tahun ada kasus meninggal para anggota yang berpatisipasi di Paskibraka, ini tentu menjadi peringatan bagi Pemda.

"Didalam UU Perlindungan Anak menyatakan bahwa Pemerintah  bertanggungjawab terhadap hak-hak pemenuhan dan perlindungan anak di masing-masing daerah.

"Ada sekira 22.500 lebih, para calon Paskibraka sekarang di camp-camp Kab/ Kota dipersiapkan untuk dilatih menuju tanggal 17 Agustus," sebutnya.

Ini penting bagi KPAI untuk memberikan informasi kepada Pemda untuk melihat aspek-aspek perlindungan dan pemenuhan hak anak.

Sekali lagi, bekerja dengan anak, tentu standarnya adalah standar anak, tentu ada kode etik pemenuhan hak anak.

KPAI juga sudah menggali informasi sesuai tupoksi dan melakukan kajian.

"Ini ujungnya adalah hasil pemeriksaan dari polisi, tentu kita hargai proses yang dilakukannya dan tidak cukup bukti terkait penyebab meninggalnya AQA," ujarnya. Kecuali memang misalnya dilakukan autopsi, tentu ada informasi-informasi yang lain.

"Bapak Kapolres tadi menyampaikan bahwa pihak orangtua AQA tidak mengijinkan itu, sesuai fakta-fakta hukum, hal itu seperti apa yang disampaikan tadi," katanya.

Sebelumnya, Kapolres Tangsel AKBP Ferdy Irawan menjelaskan kronologis bahwa AQA meninggal pada hari Kamis (1/8/2019) sekira pukul  04.20 WIB di rumahnya Perum Taman Royal 2 Jalan  Singosari No 16 Cipondoh Kota Tangerang 

Almarhuma meninggal ketika sedang berjalan menuju kekamar mandi di rumahnya tetapi sebelum sampai kamar mandi almarhuma terjatuh dan karena hal tersebut orang tua almarhuma segera membawanya ke RS EMC Kota Tangerang, tetapi sesampainya disana hasil pemeriksaan dokter bahwa almarhuma telah dinyatakan sudah meninggal dunia.

- Sebelum meninggal almarhuma sehari harinya sedang mengikuti latihan Paskibra yang diadakan oleh Dispora Kota Tangsel untuk upacara HUT RI ke 74 di Tangsel, selanjutnya atas informasi tersebut Penyelidik dari Sat Reskrim Polres Tangsel melakukan penyelidikan atas kasus tsb.

Sebanyak 32 orang saksi telah dimintai keterangan, antara lain :

a.  Orang Tua (Ayah dan Ibu) almarhuma AQA

b.  Lima (5) teman Paskibraka

c.  Pihak Rumah Sakit EMC Kota Tangerang Selatan.

d.  Pihak Guru SMA Al- Azhar BSD.

e.  Dispora Kota Tangsel atas nama Endang, Amd, ST, MM (Kabid Pengembangan pemuda) dan Eka Imelda Novitasari (Pegawai Dispora)

f. Sepuluh (10) orang dari Pihak Purna Paskibraka ( PPI ).

Dari hasil klarifikasi tersebut didapat hasil sebagai berikut; 

1. Bahwa almarhuma sejak tgl 09 Juli 2019 mengikuti pelatihan Paskibra yang diadakan oleh Dispora Kota Tangsel untuk upacara HUT RI ke 74 di Tangsel.

2. Bahwa latihan Paskibra tsb dilaksanakan setiap hari dari jam 06.00 WIB s/d 17.00 Wib dibeberapa tempat yaitu di Pamulang, Lap. Cilenggang Serpong dan hari terakhir sebelum almarhuma meninggal latihan di Yon Kav Serpong.

3. Bahwa pelatih / pengajar Paskibra tersebut adalah seniornya (Purna Paskibra / PPI Kota Tangsel).

4. Bahwa malam sebelum meninggal almarhuma sekitar pukul 20.00 Wib sempat berbincang bincang kepada orang tuanya bahwa dirinya dan teman temannya habis dihukum oleh seniornya dengan cara push up dengan tangan mengepal, dan setelah bercerita almarhuma kemudian tidur dan sekitar pukul 01.00 Wib almarhuma bangun kembali dan menulis cerita di buku diary merah putih mengenai kegiatan latihan paskibra, dan hal tersebut rutin setiap malam almarhum kerjakan karena merupakan tugas dari seniornya dan juga almarhum takut kena hukuman dari seniornya dan setelah menulis almarhum tidur kembali. Namun sekira pukul 04.00 Wib almarhuma bangun dan kemudian terjatuh dan meninggal dunia.

5. Bahwa almarhuma tidak mempunyai penyakit kronis dan khusus serta tidak dalam pengobatan / minum obat secara rutin dan tidak dalam pengawasan dokter.

6. Dari keterangan orang tua almarhum saat meninggal pada tubuh almarhuma tidak ditemukan luka / lebam / memar di tubuh korban akibat benda tumpul / tajam, tetapi pada jari almarhuma ada bekas kehitaman karena almarhuma push up dengan cara mengepal.

7. Bedasarkan hasil klarifikasi tidak di temukan adanya tindakan kekerasan yang khusus dilakukan oleh pelatih dari Yon Kaveleri Serpong maupun dari PPI (purna paskibraka Indonesia) terhadap AQA. *
Share This :

0 komentar