Soal penolakan Ahok, Kementerian BUMN: Jangan bawa Politik ke Bisnis

Advertisement

Advertisement

Loading...

Soal penolakan Ahok, Kementerian BUMN: Jangan bawa Politik ke Bisnis

Tim Pawarta
Monday, 18 November 2019

Perusahaan-perusahaan BUMN sebagai korporasi, punya tingkat keberhasilan yang terukur. Salah satunya terkait untung rugi.

PN.COM - Kementerian BUMN sudah mengetahui adanya suara-suara penolakan terhadap Ahok, terkait rencana masuknya mantan Gubernur DKI Jakarta itu ke salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Dua sumber yang mengetahui masalah ini, Ahok diarahkan menjadi Komisaris Utama PT Pertamina (Persero).

Menanggapi penolakan tersebut, Juru Bicara Kementerian BUMN Arya Sinulingga meminta, urusan politik tidak dibawa-bawa ke masalah bisnis. 

"Saya sih clear, ini kan bisnis. Jangan bawa politik lah ke urusan bisnis. Jadi kita minta, kita harapkan teman-teman serikat pekerja lihat dulu pak Ahok masuk dimana. Lihat dulu pekerjaannya," kata Arya di Kantor Kementerian BUMN, dilansir kumparan Senin (18/11).

Rencana memasukkan Ahok ke Pertamina, tak mendapat sambutan positif dari Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu (FSPPB). Foto spanduk pernyataan dari FSPPB soal penolakan terhadap Ahok, menyebar melalui aplikasi pesan singkat WhatsApp.  

"Berkali-kali ganti direksi kami tak peduli. Tapi kedatangan biang kekacauan jadi musuh kami," demikian bunyi salah satu pernyataan di foto yang diperoleh kumparan dari Presiden FSPPB, Novriandi, Jumat (15/11).

Menurut FSPPB, Ahok kerap membuat gaduh dan sikapnya tak terpuji. "Ini reaksi FSPPB, sudah terpasang di seluruh unit operasi," kata Novriandi.

Suara kritis juga dilontarkan mantan Menteri BUMN, Dahlan Iskan. "Apakah Ahok --ups, maafkan-- apakah BTP itu orang berprestasi Sehingga akan ditempatkan di salah satu BUMN? Rencana itu sangat sangat baik. Kalau BTP memang dianggap orang yang selama ini berprestasi. Lepas siapa pun ia. Apa pun pendidikannya. Di mana pun perjalanan karier sebelumnya," tulis Dahlan.

"Bagaimana kalau ada penilaian BTP itu hanya berprestasi dalam membuat kehebohan?" lanjut mantan Dirut PLN itu mempertanyakan.

Menanggapi hal itu, Arya menilai Dahlan Iskan juga suka bikin heboh.

"Pak Dahlan ini waktu di PLN dan di sini bikin heboh kan? Bikin heboh juga. Mungkin pak Dahlan lupa bahwa dia juga suka buat kehebohan. Coba tanya beliau apakah ketika buat kehebohan makin bagus enggak apa yang dia pegang atau enggak?"

Arya menegaskan, perusahaan-perusahaan BUMN sebagai korporasi, punya tingkat keberhasilan yang terukur. Salah satunya terkait untung rugi.

"Jadi saya pesan teman-teman pekerja jangan bermain politik. Apakah mereka mau urusan politik masuk dalam urusan bisnis mereka? Mereka siap enggak? Jangan lah," pungkas Arya menanggapi soal penolakan terhadap Ahok.