Ungkap Kenaikan harga Bawang Putih dan Gula -->
DESKRIPSI GAMBAR
Loading...

Ungkap Kenaikan harga Bawang Putih dan Gula

Friday, 6 March 2020


Beberapa daerah terutama di luar Pulau Jawa menjerit karena kenaikan harga bahan pokok tersebut.

Jakarta (PNCOM) - Kenaikan harga beberapa komoditas pangan seperti bawang putih dan gula sudah terasa sejak awal Februari 2020. Harga bawang putih tembus Rp 45.000-60.000 per kilogram (kg), sedangkan gula Rp 14.000-15.600/kg.

Menurut Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag), Suhanto, beberapa daerah terutama di luar Pulau Jawa menjerit karena kenaikan harga bahan pokok tersebut.

"Terus terang, di grup stabilisasi harga yang anggota Dinas Perdagangan seluruh Indonesia, saya memantau betul bagaimana kawan-kawan di daerah menjerit. Harga bahan pokok khususnya gula dan bawang putih sedang naik," kata Suhanto dalam dalam Rapat Koordinasi Implementasi SIPAP Nasional, di Hotel Borobudur, Jakarta, Jumat (6/3/2020).

Terutama semenjak kabar virus corona menyebar mulai dari China. Suhanto mengatakan, hal itu dimanfaatkan para oknum untuk menyebar isu tak ada importasi bawang putih dan gula. Sehingga, kekhawatiran akan pasokan menipis merebak, dan kenaikan harga pun terjadi.

"Rupanya pelaku usaha yang tidak bertanggung jawab tahu betul bahwa produk-produk ini khususnya bawang putih 90% diimpor dari China. Bahkan 90% china menguasai persediaan bawang putih di dunia. Sehingga dengan informasi corona seolah-olah tidak ada pergerakan bawang putih dari daratan China ke daratan lain," ucapnya.

Selain itu juga, para oknum ini sengaja menimbun pasokan.

"Yang terjadi, beberapa pelaku usaha yang tidak bertanggung jawab menyimpan barangnya, karena harapannya dengan kekurangan bahan pokok tersebut di lapangan harga akan naik, dan ternyata ini ampuh bagi mereka, harga benar-benar naik," ungkap Suhanto.

Kemendag buka suara soal Izin impor gula dinilai telat. Klik halaman selanjutnya

Pada hari Selasa (3/3), Menteri Perdagangan Agus Suparmanto mengumumkan, pemerintah akan mengimpor 438.802 ton gula kristal mentah (raw sugar) yang nantinya diolah menjadi GKP atau gula kristal putih.

Impori itu dilakukan semenjak harga gula sudah berangsur naik selama satu bulan. Oleh sebab itu, Suhanto membeberkan alasan mengapa Kemendag baru memutuskan importasi gula baru-baru ini.

"Kenapa di Kemendag waktu itu belum melakukan importasi. Karena data kami, khusus untuk gula, akhir Desember kami mempunyai data dari importasi yang kami lakukan dan produksi dalam negeri, untuk gula akhir Desember kita masih punya stok sekitar 495.000 ton. Padahal, konsumsi nasional per bulan hanya sekitar 229.000 ton. Artinya dengan angka 495.000 ton, kami meyakini persediaan gula untuk 2 bulan ke depan, paling tidak sampai akhir Februari cukup," imbuh dia.

Namun, menurut Menurut Tenaga Ahli Asosiasi Gula Indonesia (AGI) Yadi Yusriyadi, kenaikan harga GKP murni disebabkan stok yang menipis.

"Ya stok sudah menipis. Kalau situasi seperti ini, sangat kurang di toko-toko, supermarket modern hampir kosong. Harganya juga sudah Rp 14.000-16.000/kg. Jadi perkiraan saya kalau penimbunan kecil. Hampir tak ada. Semua mengeluarkan stok sekarang," kata Yadi kepada detikcom.

Bahkan, AGI memprediksi akan terjadi defisit atau kekurangan pasokan GKP di tahun 2020 ini apabila tak ada impor. Ia membeberkan, stok GKP di awal tahun 2020 diprediksi hanya mencapai 1,08 juta ton, lalu produksi sebanyak 2,05 juta ton. Sementara, perhitungan AGI konsumsi GKP dalam negeri tahun 2020 diperkirakan mencapai 3,16 juta ton. Dengan begitu ada defisit atau kekurangan pasokan GKP sebanyak 29.000 ton.