Ternyata omset penjualan madu palsu miliar rupiah -->

Menu Atas

DESKRIPSI GAMBAR
Loading...

Ternyata omset penjualan madu palsu miliar rupiah

By: PAWARTA tv
Wednesday, 11 November 2020


Madu palsu yang diproduksi tanpa ada kandungan madunya tersebut menggunakan bahan berbahaya seperti molases sebagai pewarna makanan dari limbah tetes tebu.


Banten- Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Banten, Kombes Nunung Safruddin mengatakan, tersangka MS mendapatkan keuntungan dari penjualan madu palsu sebesar Rp 8 miliar.


Madu palsu yang diproduksi tanpa ada kandungan madunya tersebut menggunakan bahan berbahaya seperti molases sebagai pewarna makanan dari limbah tetes tebu.

Kemudian glukosa untuk mengentalkan cairan agar seperti madu asli, dan fruktosa yang merupakan zat karbohidrat di dalam gula.


MS diketahui menjual madu khas Banten yang ternyata palsu. MS sudah memproduksi madu sejak satu tahun terakhir di tempat pengolahan di Jalan SMA 101 Joglo, Kembangan, Jakarta Barat.


"Kalau kita kalkulasi penghitungan antara modal sampai dengan hasil, pelaku MS ini dalam satu tahun dapat meraup keuntungan Rp 8 miliar dari jualan madu saja," kata Nunung kepada wartawan di Mapolda Banten, Selasa (10/11/2020).


Nunung menuturkan, dalam sehari MS dapat memproduksi madu palsu sebanyak 1 ton yang dikemas ke dalam jerigen berkapasitas 30 liter.


"Per jerigen dijual dengan harga Rp 660.000. Oleh para pelaku di wilayah Lebak, madu ini dikemas lagi menjadi bentuk botol, bisa djual Rp 150 sampai Rp 200.000," ujar Nunung.


Nunung menambahkan, para penjual di Lebak membuat kemasan madu berupa botol ukuran 450 ml, dan dibuat seakan madu khas dari Banten.


"Dikemas seperti ini (botol) yang seolah-olah madu ini berasal dari Banten, padahal produksinya di Jakarta," kata Nunung.


Berdasarkan hasil pemeriksan tersangka, madu palsu yang disebut khas Banten itu sudah dijual ke seluruh wilayah di Pulau Jawa.


"Jualnya secara online, selain di sepanjang jalan daerah Lebak. Tidak hanya menyebar di wilayah Jakarta dan Banten saja, tapi wilayah Jabar, Jawa Timur, Jawa Tengah, bahkan di luar Pulau Jawa," kata Nunung.