Etika, Moral dan Akhlak Pilar Pertahanan dan Ketahanan Budaya Bangsa Indonesia -->

Breaking news

News
Loading...

Etika, Moral dan Akhlak Pilar Pertahanan dan Ketahanan Budaya Bangsa Indonesia

Saturday, 28 August 2021

Jacob Ereste :


Banten - Ibarat menahan sergapan musuh, maka moral, etika dan akhlak menjadi benteng pertahanan dan ketahanan dari sergapan arus global yang gencar dan bertubi-tubi melantak segenap warga bangsa dan negara Indonesia sampai hari ini.


Demikian ungkap Eko Sriyanto Galgendu dalam diskusi terbatas, Sabtu 28 Agustus 2021 di Sekretariat GMRI Jl. Juanda 5 Jakarta Pusat.


Ia pun merasa senang ikut menikmati kiriman khusus tentang moral yang dipapar Jaya Suprana karena merupakan energi utama bagi GMRI (Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia) untuk menjawab tantangan besar bagi bangsa dan negara Indonesia.  Pakar tangguh Kelirumologi itu mengirimkan ulasannya yang berjudul 

"Lebih Dekat Mengenal Moral". (Kompas.Com, 27 Agustus 2021). Selain sangat bermutu dan relevan dengan tajuk utama dari perjuangan GMRI, pokok pikirannya yang jenaka dan khas penguasa mesuem Muri ini sangat bagus menjadi bagian rujukan GMRI.


Ihkwal moral pun dipaparkan boss jamu ini dengan  rujukan yang nyaris komplit. Bahkan sempat menyandingkan moral dengan mural yang sempat mennjadi polemik, karena pihak aparat keamanan merasa terganggu dan risi lalu menganggap perlu untuk melakukan pembersihan, meski cuma khusus pada satu mural yang sangat  terkesan jelas menyindir Presiden Joko Widodo. Karena topik mural ini pula, Jaya Suprana mendapat kritik dari yang disebutnya sang maha pemikir Tommy F. Awuy, Dosen IKJ yang selalu kritis terhadap apa pun, termasuk ulasan Jaya Suprana yang  jenaka itu. Paparan tentang moral ini pun diakuinya sebagai tugas yang supra sulit. Karena untuk   pengertian mural dengan moral itu, memang berbeda tipis dalam narasi, namun perbedaan yang essensial jauh sekali,  jarak antara bumi dengan langit.


Lalu apa yang disebut sebagai moral itu, kata Jata Suprana seperti yang kerap menjadi bahan pemikiran para pemikir yang menyadari bahwa moral merupakan unsur penting bagi manusia untuk mengubah sifat dasar dari sifat kemanusiaannya  yang disebut biadab untuk menjadi beradab. Moral sebagai das sollen menjadi pedoman sekaligus kendali das sein dari naluri keinginan mencuri,  menindas, menjajah hingga tega ingin menyelakakan atau bahkan membunuh orang lain -- mestinya termasuk pula -- membunuh diri sendiri.


Dalam alam pemikiran Barat, kata Jaya Suprana,  mereka yang secara sadar berupaya memilah yang buruk dari yang baik disebut sebagai kaum moralis. Dan pada alam filsafat Yunani yang tampil para pemikir aliran Stoikisme. Lalu sang mahapemikir Denmark, Soeren Kierkegaard pun dijuluki moralis.


Dalam koleksi aforisma, menurut Jaya Suprana tersimpul bahwa Arthur Schopenhauer justru sebagai moralis sejati. Karena dari sudut pandangnya yang subyektif, Alfred Adler lebih moralis ketimbang Edward Jung, apalagi mau dibangdingkan dengan Sigmund Freud. 


Dalam bukunya Adam Smith menulis The Wealth of Nations. Lalu  The Theory of Moral. Sentiments yang kemudian selalu menjadi rujukan sebagai pedoman berekonomi yang bermoral itu. Lain ceritanya Nicolo Machiavelli yang menulis Principe untuk mengungkap keburukan moral para penguasa yang disengaja ditafsirkan dengan keliru dan juga yang dianjurkan bagi para penguasa agar tidak bermoral.


Memang sungguh memprihatinkan bahwa secara de facto kaum moralis terbagi menjadi dua jenis, yaitu yang tulus dan yang munafik. Lalu penguasa yang melakukan korupsi bansos misalnya, adalah para moralis munafik seperti yang dimaksud. Dan mereka yang melahap dana masyarakat yang dipercaya untuk mengelola Jiwasraya itu juga moralis munafik.


Sama halnya dengan mereka yang menepuk dada sendiri sambil sesumbar “Aku Pancasilais” namun kenyataan sepak terjangnya sama sekali tidak selaras dengan sesumbarnya. Jadi kearifan

Di kawasan pemikiran Timur, menurut Jata Suprana, moral itu  lebih diutamakan sebagai pedoman kehidupan untuk semua semua hal.


Dalam kearifan pemikiran Jawa, moral sebagai pedoman sikap dan perilaku beradab yang tersirat dalam beragam falsafah hidup, termasuk nrimo ing pandum hingga sampai pada apa yang dimaksudkan manunggaling kawula lan gusti. Sedangjan dalam kitab suci Nasrani, secara kualitas maupun kuantitas Perjanjian Baru relatif lebih mengutamakan moral sebagai das sollen ketimbang Perjanjian Lama, menurut Jaya Suprana. Lanrad Sidharta Gautama yang mewariskan kearifan moral paling mendasar, yaitu berbuat baik kepada sesama manusia serta menghindari kemelekatan pada keduniawian.


Jaya Suprana pun mengaku bahwa Mahabharata dan Wayang Purwa merupakan sumber ilham bagi dirinya untuk belajar apa yang disebut sebagai moral. Gus Dur dan Cak Nur yang mewariskan pemahaman tentang Islam yang baik, yaitu dua kearifan moral adiluhur; fastabiqul khoirot (berlomba-lomba dalam kebaikan) dan jihad al nafs (ketangguhan menaklukkan hawa nafsu sendiri). Maka inti pokok dari moral paparan ini patut dieksplorasi lebih luas dan kebih mendalam untuk menjadi salah satu dari anak kunci pembuka kesadaran spiritual bangsa Indonesia yang digagas GMRI (Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia) agar dapat menjadi pertahanan dan ketahanan budaya bangsa dalam menghadapi tantangan global yang semakin beragam dan kompleks. Demikian ungkap Eko Sriyanto Galgendu saat diskusi terbatas sekalugus  mengapresiasi pemaparan ikhwal moral yang sangat relevan dengan gagasan besar GMRI. (rs/*)