Suara Perkutut dan Azan Telah Membimbing ke Rumah Tuhan -->

Breaking news

News
Loading...

Suara Perkutut dan Azan Telah Membimbing ke Rumah Tuhan

Wednesday, 25 August 2021

Jacob Ereste :


Banten - Sufi dan tasawuf sama seperti laku spiritual, semua itu lumayan sulit untuk dijelaskan per definisi serta wijudnya, namun lebih gampang dilakoni saja seperti memulai dengan cara melafaskan doa syukur atau zikir untuk puja-puji kepada Allah Yang Maha Kuasa. Juga seperti yang digunakan oleh segenap warga bangsa Indonesia dalam UUD 1945 serta sila dari Pancasila yang juga menjadi pedoman hidup bahkan ideplogi negara Indonesia.


Tiga ilmu dasar yang menjadi semacam titah wajib bagi ummat Islam setidaknya adalah tauhif, fiqih dan tasawuf. Lalu tasawuf itu sendiri merupakan bentuk dari perwujudan ikhsan untuk syariat dalam Islam -- sebagai ilmu atau cara untuk membimbing diri menjauh dari hal-hal yang bersifat duniawi -- dengan memberi bobot yang lebih bersifat ukhrowi.


Meski nyaris sama dengan teosofi yang dominan warna filsafat keagamaannya -- upaya mencari Tuhan dalam pengembaraan pemikiran -- tetap berbeda langkah pijak maupun dari tujuan akhir yang hendak dicapai, jika dipadankan dengan tasawuf atau pun laku spiritual yang ideal untuk mendekat kepada Tuhan. Karena tasawuf atau pun spiritual sudah harus selesai bertanya tentang Tuhan. Sebab Tuhan bagi kaum sufi atau pun para pelaku spiritual sudah lebih asyik bercengrama "dalam rumah" Tuhan. Meski kedatangan mereka dari berbagai penjuru mata angin -- agama, pemahaman fipsafat dan sebagainya -- karena sufisme dan laku spiritual tidak bisa diklaim oleh satu agama apapun yang ada di dunia. Setidaknya, sejarah sufisme sendiri -- sebagaimana laku spiritual yang sudah dilakukan entah sejak kapan penanggalannya yang tepat -- jadi semakin jauh tersesat dalam dialog maupun perdebatan yang melelahkan. Sementara untuk bersufiria maupun melakoni pendakian ke puncak spiritual itu, semacam keasyikan para pencinta alam naik ke gunung dengan bernyanyi sesuka hati namun tetap siap berlelah-lelah sekedar untuk memandang cakrawala luas untuk menikmati pemandangan luas bagi mata hati yang terpukau pada Keagungan Illahi Rabbi. Padahal, sangat mungkin pemandangan yang sama sudah berulang kali dilihat, namun toh tetap percaya bila ujung langit nan jauh disana itu ada sesuatu yang memberi harapan seperti mistri yang sukar untuk diungkapkan.


Namun begitu, jalan spiritual itu bisa saja menjadi sangat sederhana, seperti kisah sastrawan dan dramawan besar Indonesia -- WS. Rendra -- yang berkisah tentang proses dirinya menjadi mualaf -- hanya karena mendengar suara azan yang sayup  ditengah keramaian kota New York saat mengambara di negeri asing itu. Demikian juga dedah religiusitas dari puisi Chairil Anwar yang yang berjudul "Do'a" kepada Tuhan.


Kata Chairil Anwar  lewat karya puisinya, ia datang  seraya menyapa Yang Maha Kuasa itu tanpa rasa takut dan gentar. Katanya ; Tuhanku/ dalam termangu/ aku masih mentebut namaMu.


Biar susah sungguh/ mengenang Kau penu seluruh


Lalu pada bait berikutnya Chairil Anwat semakin mendekat ke rumah Tahun. Lalu ia pun berkata ; Tahunku/ dipintuMu aku mengetuk/ aku tidak bisa berpaling.


Begitulah Chairil Anwar mendedahkan kegundahan hatinya. Karena sebelimnya ia sadar, sehingga is mengsku dihadapanNya; Tuhanku/ aku mengembara di negeri asing... katanya. Karena mungkin sebelum itu dia memang lalai tak menjalankan perintah Tuhan sebagai Muslim yang taat.


Begitulah "Do'a" seorang penyair yang mengaku tidak mungkin mengelak untuk berhadapan dengan Tuhan. Maka itu Chairil Anwar pun berkata lewat puisinya yang berjudul do'a itu; Tuhanku/ dipintu-Mu aku mengetuk.... biar susah sungguh/ mengenang Kau penuh seluruh...hingga dia pun menyadari dirinya seperti kerlip lilin dikelam sunyi.


Pengembaraan sputitual yang dilakukan seorang penyair serupa ini mungkin dapat dijadikan alternatif pilihan menuju kd rumah Tuhan dengan cara yang unik. Misalnya bila dibanding dengan mereka yang perlu tafskur di tempat  ibadah lengkap dengan tasbih dan kitab-kitab yang diperlukan. Karena    sungguh dakhsyat  gapaiannya sebab gapaiannya cukup mengesankan. Seperti pengalaman spiritual pribadi yang justru dapat menemukan Tuhan, saat jauh berada di Eropa, hanya karena mendengar suara burung perkutut yang merdu suaranya. Dari suara burung  perkutut di Kota kecil Terr Not Belgis itu dahulu, jadi terkagum takjub karena menikmati suars buruh yang sama saat madih berada di kampung dulu, lantaran tidak kesalahan sedikit pun dari makhluk ciotaan Tuhan itu, padahal jumlahnya mungkin jutaan, dan penyebarannya bisa begitu luas sampai ke dataran Eropa. Sementara dulu -- di kampung kelahiranku -- kegadiran perkutut itu tak pernah menarik perhatian begitu istimewa setelah bertahun-tahun kemudian.


Ternyata, Tuhan itu sungguh dengan semua karya ciptaanNya. Karena hanya dari dengus nafas sendiri yang mengeluarkan uap fanas dari dalam tubuh ketika berada di tempat  bersuhu udara cukup rendah -- sangat dingin -- maka secara otomatis tubuh memproduksi energi panas dari dalam tubuh tanpa perlu menunggu perintah. Sungguh, Allah SWT itu  Maha Sempurna.


 semp Sebab burung perkutut citaan-Nya itu telah memperjelas  Ke-Maha-Agungan  Tuhan Yang Maha Kuasa. Persis seperti suara perkutut yang sudah sering saya dengar saat di kampung dahulu, termasuk keindahan bulunya yang tak berbeda, meski perkutut itu berada jauh jarak keberadaannya dari yang saya lihat di Eropa dengan perkutut yang ada di kampung saya dahulu itu.


Jadi suara burung perkutut itu telah membimbing keyakinan pada adanya Tuhan Yang Maha Kuasa dan Maha Sempurna. Karena perkutut sebagai makhluk ciptaan-Nya yang ada di Eripa dan banyak sekali di kampung saya itu sampai sekarang, sungguh sama. Tiada beda. Sebab perkutut yang sudah sering saya dengar sejak kecil itu dahulu, mengapa harus kupahami setelah di berada di Eropa ? Mengapa tidak sejak masa kanak-kanak dahulu, ketika sering berada ditengah kerumunan burung perkutut itu dahulu ? 


Kisah sepele ini selalu kuingat. Karena narasinya merupakan pengalaman spiritual yang sangat sederhana, tapi menghunjam dalam detak jantung otomatik yang juga tanda dari ke Maha Pemurahnya Tuhan. Sebab permenunganku pun cukup lama, termangu-mangu  takjub hingga  menduga bila semua kejadian itu sudah menjadi skenario yang juga  dibuat oleh Tuhan.  Kecuali itu, Eko Sriyanto Galgendu yang semakin kukenal tidak cuma penggagas gerakan kebangkitan kesadaran spirital bangsa Indonesia -- bahkan mau menjadi lokomotif penarik gerbong besar yang telah dipersiapkan -- juga memantik kesaksian ini untuk ditulis agar dapat menambah energi sekaligus referensi diskusi yang akan terus berlanjut pada waktu serta kesempatan berikutnya. Semoga ada bermanfaatnya.

(rsd/*)