Lelucon Gus Dur Hingga Ungkapan Liris Pevita Pearce -->

Breaking news

News
Loading...

Lelucon Gus Dur Hingga Ungkapan Liris Pevita Pearce

Wednesday, 1 September 2021

Jacob Ereste :


Lelucon Gus Dur Hingga Ungkapan Liris Pevita Pearce Menandai Kebangkitan Spiritual di Dunia, (01/9).


Banten- Cerita Gus Dur (Abdurachman Wahid) tentang Gus Dur sendiri yang lucu-lucu jangan pernah dikira bukan laku spiritual maupun sekaliber kaum sufi. Ceritanya saat ziarah ke makam ayahnya, KH. Wahid Hasyim di komplek Pesantren Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur, saat tengah malam tertidur di makam ayahandanya itu.


Kisah Gus Dur yang dikira hantu saat tertidur di makam ini (Okezone, 03 Agustus 2021) dicatat oleh penulis Greg Barton, penulis biografi Gus Dur.


Kisahnya berawal dari pertanyaan Hanna, putri Greg Barton kepada Gus Dur soal percaya atau tidak percayanya pada cerita hantu itu.


“Ini pengalaman saya. Tempo hari saya di makam bapak saya di Jombang. Sudah kebiasaan saya ke makamnya pada waktu tengah malam. Dan pada malam Sabtu, saya ke sana sudah berjam-jam berlalu dan ketika itu saya sedang dalam kondisi batuk. Lalu saya berbaring di makam dan tidak ada orang lain di sana,” kata Gus Dur berkisah.


Lalu sekira pukul 03.00 WIB, kata Gus Dur, ia pun terbangun dari tidurnya karena mendengar ada seseorang yang datang ke makam untuk berziarah juga.


“Mungkin sekitar jam 3 pagi, saya terbangun dari tidur karena mendengar ada suara orang yang datang ke makam untuk berziarah. Tetapi, karena tiba-tiba terbangun dan mendengar suara orang itu, saya langsung berdiri. Sedangkan orang yang datang ke makam itu berteriak dan melarikan diri,” tutur Gus Dur.


“Kalau saya percaya pada hantu, ini kan sangat misterius. Terus terang saya kurang tahu. Jadi kalau ditanya percaya atau tidak adanya hantu, saya tidak bisa menjawab. Tetapi, kalau orang itu (yang datang ke makam lalu berlari, red) yang ditanyakan pasti percaya, karena dia takut dan merasa melihat hantu,” ujar Gus Dur seperti yang dilansir NU Online.


Perihal hantu itu sendiri menurut Eko Sriyanto Galgendu, Ketua Umum GMRI (Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia) memang bisa diterima sebatas misteri saja seperti yang dikatakan Gus Dur. Karena bagi orang yang menekuni laku spiritual, soal hantu itu seperti penonton yang memberi semangat dalam suatu pertunjukan atau pertandingan yang juga bisa menjadi pengganggu, tapi tak perlu terlalu dihiraukan. Sebab para penonton atau mereka yang berposisi memberi semangat itu bukan yang  memastikan kemenangan atau kesuksesan dari suatu pertarungan atau pertunjukan.


Cerita yang lebih up to date hari ini, ungkap Eko Sriyanto Galgendu terkait dengan laku spiritual yang bangkit sebagai suatu kesadaran untuk menghadapi masalah zaman yang semakin rumit dan kompleks sekarang ini, seperti yang dialami oleh artis kaliber dunia Pevita Pearce, saat mengungkap kematian ayahnya, Bramwell Pearce lewat insta story yang mengunggah potret masa kecilnya bersama ayah tercinta.(brillio.net, Senin, 30 Agustus 2021).


Kabar duka datang dari Pearce Pearce, bintang film 5 cm ini menuliskan dalam caption panjang berbahasa Inggris di fotonya yang berposesl dengan sang ayah yang sangat menyentuh dan bernas itu, seakan tulisan spontan dibuat  oleh seorang sufi berklas master. Sungguh sangat luar biasa.


" It looks like the end, it seems like a sunset but in reality it is a dawn when the grave locks you up that is when your soul is freed. Until we meet again Dad, (Terlihat seperti akhir, itu tampak seperti matahari terbenam, tetapi pada kenyataannya itu adalah fajar ketika kuburan mengunci mu, saat itulah jiwa mu dibebaskan. Sampai bertemu lagi ayah) " tulis Pevita, seperti dilansir brilio.net sehari kemudian, Senin (30/8).


Begitulah ungkap Eko Sriyanto Galgendu dengan sangat yakin pada tanda-randa kebangkitan kesadaran spiritual bukan cuma sebatas warga bangsa Indonesia yang memiliki energi berlimpah dalam hal ikhwal sumber saya spiritual. Seperti potret Pevita Pearce yang erat memeluk sang ayahnya penuh kemesraan itu.


Bagi Eko Sriyanto Galgendu, kebangkitan kesadaran spiritual bangsa Indonesi adalah kenicayaan yang tidak terelakkan untuk melahirkan kepemimpinan yang berbasis  spiritual dengan dukungan segenap warga bangsa yang mengakar dalam pada budaya leluhur yang kaya akan corak dan ragam serta nilai kearifan lokalnya yang khas. Karena kekayaan budaya serta ragam corak spiritual bangsa Nusantara sungat betlimpah. Tidak seperti dimiliki bangsa-bangsa lain di belahan bumi manapun.


Atas dasar itulah, puncak dari kebangkitan kesadaran spiritual bangsa Indonesia akan ditandai oleh  kepemimpinan bangsa-bangsa di dunia. 


Karena semua wahyu para raja dan ratu hingga warisan para wali Allah juga tumbuh subur di Nusantara, seperti rachmatan lil alamin yang terpelihara dengan baik di negerk kita ini, kata Eko Sriyanto Galgendu pada diskusi rutin, Rabu, 1 September 2021 di Sekretariat GMRI, Kawasan Juanda, Jakarta Pusat. (rs/*)