Tantangan hari ini, santri harus melek digital, harus menguasai sains dan teknologi -->

Breaking news

News
Loading...

Tantangan hari ini, santri harus melek digital, harus menguasai sains dan teknologi

Saturday, 9 October 2021

Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid: Saya salut BEM Pesantren mengangkat tema soal bonus demografi, menjadi jelas tantangan kita kedepan salah satunya adalah tingkat pengangguran, kemiskinan jika kita tidak mampu mengelola sumber daya yang ada, utamanya sumber daya manusia (SDM).


Jawa Barat, (Indramayu) - Dunia digitalisasi, sanis dan teknologi berkembang dengan sangat cepat. Kini, semua lini kehidupan manusia tidak bisa dilepaskan dari tiga hal tersebut.


Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid meminta di era perkembangan teknologi informasi saat ini agar para santri lebih melek digital. ”Tantangan hari ini, santri harus melek digital, santri harus menguasai sains, dan santri harus menguasai teknologi,” ujar Gus Jazil–sapaan akrab Jazilul Fawaid–saat memberikan sambutan pada Musyawarah Kerja Nasional IV Halaqoh BEM Pesantren Se-Indonesia bertajuk “Representasi Mahasantri yang Inovatif Menyambut Era Bonus Demografi” dan Launching Pesantren Digital di Pondok Pesantren Darul Ma’arif, Indramayu, Jawa Barat, Jumat (8/10/2021).


Dikatakan Gus Jazil, bonus demografi harus menjadi peluang. Bukan sebaliknya, bonus demografi malah menjadi persoalan baru bagi bangsa.


"Saya salut BEM Pesantren mengangkat tema soal bonus demografi, menjadi jelas tantangan kita kedepan salah satunya adalah tingkat pengangguran, kemiskinan jika kita tidak mampu mengelola sumber daya yang ada, utamanya sumber daya manusia (SDM),” paparnya.


Wakil Ketua Umum DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini meminta agar SDM pesantren terus ditingkatkan, utamanya SDM di bidang-bidang sains dan teknologi. ”Kalau BEM Pesantren soal dalil mungkin cukup hafal. Dalil-dalil agama lengkap, tapi sains dan teknologi ini masih belum. Oleh sebab itu, di pesantren jangan ada dikotomi antara agama dengan pelajaran umum,” urainya.


Gus Jazil mengaku senang karena BEM Pesantren kini meluncurkan Pesantren Digital. Artinya, kalangan santri saat ini sudah selangkah lebih maju dibandingkan orang-orang dahulu yang berjuang dengan menggunakan bambu runcing. ”Sekarang anak-anak kita berjuang cukup dengan jempol dan jari. Hari ini semua setelah pandemi ini bahwa dunia ini tidak mampu lepas dari apa yang disebut dengan dunia digital. Semua pedagang digital, belajar digital, ini tadi di Indramayu pemerintahan juga menggunakan digital,” katanya.


Kepada para kalangan santri, Gus Jazil juga berpesan agar tidak takut, ragu dan minder dalam menghadapi persaingan global. ”Karena sering kali santri itu minder, kurang percaya diri untuk berkiprah, untuk maju, untuk bersaing, fastabiqul khairat dengan kelompok-kelompok yang lain. Padahal cukup dibina mental, cukup ilmunya tetapi terkadang rasa percaya dirinya kurang,” tuturnya.


Dengan diluncurkannya Pesantren Digital, kata Gus Jazil, santri harus muncul kepercayaan diri untuk berkiprah di dunia manapun, baik di bidang politik, wirausaha, pertanian, pariwisata, dan bidang-bidang lainnya. “Di semua sektor, santri harus ada di situ, bukan hanya di madrasah dan pesantren-pesantren saja. Hari ini terus terang di dunia usaha minim sekali. Kalau di politik, KH Ma’ruf Amin, kepalanya santri, menjadi wakil prsiden. Tetapi kalau di kalangan usaha, minim sekali kader-kader santri yang menjadi pengusaha besar,” katanya.


Oleh sebab itu, tutur Gus Jazil, teknologi dan pemberdayaan ekonomi harus menjadi tantangan yang bisa dipecahkan kalangan pesantren kedepan. ”Silakan yang mau berpolitik monggo, itu halan. Jadi pengusaha juga halal, penceramah juga. Kita bersaing dengan keadaan hari ini dengan nilai-nilai kesantrian,” katanya.


Menurutnya, kiprah santri di negeri ini harus maksimal. Sebab, dalam sejarahnya pesantren lebih dulu lahir dibanding NKRI. Pesantren juga merupakan lembaga pendidikan yang paling awal berdiri di Indonesia. ”Di dunia tidak ada Hari Santri Nasional kecuali di Indonesia, tidak ada UU Pesantren, dan tidak ada BEM Pesantren kecuali di Indonesia. Masalahnya kiprah sejarah yang sepanjang itu apakah sudah mampu menjawab kiprah santri, ini adalah tantangan yang masih harus terus diperjuangkan,” katanya. (rs/*)