Sebanyak 53 unit rumah warga terendam banjir di Banyuwangi -->

Breaking news

News
Loading...

Sebanyak 53 unit rumah warga terendam banjir di Banyuwangi

Saturday, 20 November 2021

Kejadian ini terjadi setelah hujan dengan intensitas tinggi pada Jumat (19/11) pukul 14.35 WIB, dok. istimewa (20/11).


Banyuwangi - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banyuwangi melaporkan sebanyak 53 unit rumah warga terendam banjir. Banjir ini melanda Desa Kalibaru Wetan, Kecamatan Kalibaru, Banyuwangi, Jawa Timur. 


Kejadian ini terjadi setelah hujan dengan intensitas tinggi pada Jumat (19/11) pukul 14.35 WIB. Terdapat 53 KK terdampak dengan ketinggian air pada saat terjadi banjir berkisar antara 50 - 60 sentimeter.


BPBD Kabupaten Banyuwangi segera melakukan koordinasi dengan pihak terkait guna melakukan penganganan dan kaji cepat di lapangan. penyiapan bantuan juga tengah dilakukan bagi para warga terdampak.


Banjir dan Longsor di Ende, NTT


Banjir dan tanah longsor juga terjadi di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur pada Kamis (18/11) pukul 19.35 WITA. Dilaporkan terdapat lima kecamatan terdampak yakni Kecamatan Ende Timur, Kecamatan Ende Selatan, Kecamatan Ende Tengah, Kecamatan Ende Utara dan Kecamatan Ndona. 


BPBD Kabupaten Ende melaporkan terdapat satu warga mengalami luka berat dan telah mendapatkan perawatan di RSUD Ende. Selain itu, sebanyak 247 unit rumah terendam banjir dengan ketinggian air sekitar 120 sentimeter. 


BPBD Kabupaten Ende menerjunkan tim ke lokasi untuk melakukan kaji cepat dan berkoordinasi dengan lintas instansi terkait. Penyedotan rumah warga yang terendam banjir dengan menggunakan pompa air telah dilakukan, sehingga kondisi terkini banjir berangsur surut di beberapa titik. Pemberian bantuan kepada warga terdampak juga terlah dilakukan dalam upaya pemenuhan kebutuhan dasar.


Melihat kondisi beberapa wilayah di Indonesia yang mengalami banjir dan longsor, BNPB menghimbau untuk para pemangku kepentingan dan pemerintah setempat untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan dalam menghadapi fenomena La Nina. Pemilihan penanaman tanaman berbasis vegetasi dapat dilakukan guna mengikat struktur tanah dan mampu menyerap air pada saat kondisi cuaca ekstrem yang dapat memicu ancaman potensi bahaya hidrometeorologi. (rs/*)